Pages

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, January 4, 2012

Sketsa

kata-kata marah padaku
karena sudah lima tahun lebih aku tak menegurnya

lain halnya dengan kalimat yang kecewa terhadapku
rupanya paragraf lebih bijaksana dengan menganggap bahwa aku telah tiada

tak ada alibi yang mampu membuat mereka membukakan pintu rumahnya untukku
kecuali kembali ku genggam satu persatu huruf yang dari lima tahun lalu berserakan di belakang rumahku

Tahun Depan Neng

Neng..
rinduku telah usang kepadamu
menumpuk di gudang tua jiwaku
berisi carik-carik kertas
yang ku tulis puisi di atasnya,
lagi belum sempat ku kirimkan padamu

Tapi, tahun depan neng...
kau suka atau tidak,
akan ku bakar tumpukan rinduku di hadapanmu

Sunday, December 25, 2011

Pohon Jambu dan Topeng Itu






Suatu saat,

menjenguk kota indahmu
mengingatkanku pada bintang-bintang yang dipahat malam
lampu-lampu kota yang selalu sibuk, udara yang dingin
serta rindangnya pohon jalanan yang
selalu menyuguhkan nuansa baru penuh kedamaian

Kurasa,
tiada lagi yang tersisa di sini
kecuali segaris pengalaman yang tercipta oleh kebudayaan masyarakat
dan kenangan bagaimana diri ini dibentuk

Hanya,
pohon jambu yang tak ku tahu jenisnya,
masihkah ia tumbuh dihalaman rumahmu?
sekalipun aku belum pernah melihatnya berbuah apalagi memakannya
Kau terlalu sibuk saat itu
dan kekasihmu amatlah pencemburu

Dan lagi,
sepasang topeng kayu berbentuk manusia purba
pada dinding garasi rumahmu,
masihkan ia ada di sana?
kau bilang ia mirip aku, dalam candamu
atau sesungguhnya itulah satu-satunya kejujuran
yang pernah kau katakan padaku

Tapi kau jangan takut,
aku takkan mengganggumu
aku hanya ingin merasakan kembali hangatnya
kenangan bersama sahabat-sahabatku
yang masih tertinggal di kotamu

Malangnya Kekasihku


Aku benci laki-laki itu!!
So idealis!
So munafik!
Apa sih lebihnya pelacur itu daripada aku?
Aku lebih catik
Aku lebih seksi
Kulutku putih
Rambutku panjang
Aku lebih manis
Aku lebih kaya
Aku lebih menggairahkan

Soal diranjang..?
Aku selalu memberinya kepuasan
bahkan tanpa diminta, aku lebih dulu memberinya
Aku juga tidak pernah meminta bayaran setelah melakukannya
karena aku bukan pelacur seperti dia. 
Aku melakukannya karena aku mencintainya
Apa ada yang kurang dari semua ini?
Sehingga dia meninggalkanku hanya karena pelacur murahan itu
Saat ku tanya alasan dia meninggalkanku,
dengan entengnya dia menjawab:
"Engkaupun tau kalau aku menyukai sesuatu yang mahal dan berharga,
saat ku gerayangi tubuhmu kemudian kita bercinta, kekasihku,
kau tidak pernah meminta apapun. Kau beri semuanya dengan cuma-cuma
Gratis. Tapi dengan pelacur itu, aku harus membayarnya

Mana yang lebih murah sayangku, Kamu atau Pelacurku?

Tali dan Gurun Batu

Seharusnya kita sama-sama tahu
jalan yang kita lalui adalah gurun batu
dan seharusnya kita sama-sama mengerti
tubuh kita telah terikat oleh satu tali

Tidak Lebih!

Tali itu telah kita miliki,
             bukan ku beli
     tidak juga kau curi

Dia ada karena kita menginginkannya
dan kita telah sama-sama mengikatnya

erat...
        kuat...
                 tanpa karat...

jauh sebelum pekat ini mendekat

Bersama Hujan




Hujan kemarin masih belum mau reda
masih rindu pada bau manusia katanya
juga pada kelopak-kelopak bunga
dan kolibri pada benang sarinya

Gumpalan pedut membentuk bayang-bayang kelambu
       serupa selimut tebal penantian
       memegat nasib agar jangan dulu tiba
       sejak dua tahun yang lalu
       bersama hujan

Wednesday, December 21, 2011

Bifurkasi

Pernahkah kau bertanya kepada waktu
yang melenggang tanpa busana,
menambatkan pakaiannya setelah diperkosa,
ketika malam menjelang buta?
seseorang pernah melakukannya secara tidak sengaja
sebentar kemudian menggelepar di antara kaki-kaki meja

       


Kita telah lupa perihal kelahiran
dari wanita-wanita pengandung benih kehidupan
              tapi kita juga telah lupa kematian
membimbing dari jalan sebelelah yang banyak lubang
              serupa comberan

Kemudian waktu yang melenggang tanpa busana
              bertanya kepada kita,
Maukah kau kubelikan celana?

Dosa yang terbang

Waktu telah menyembunyikan cintaku
disebuah taman di pusat kota
tempat para pemuja cinta sibuk mengatur
desah nafasnya dalam rengkuhan asmara

Burung-burung kecil tak bernama mencari jasa

memanggil angin
                 menguap peluh
                 peluh hilang
dosapun terbang

Cintaku berwarna merah darah
seperti kau sang pecinta mirah
berkotak biru berpita hitam

Dan kau lihat aku yang kelam
semaput di mimpimu sudah bermalam-malam

Penipuanku

Kali ini aku berdusta!

semua manusia tanpa dosa
berusaha membohongi malaikat berjingkat masuk ke syurga
iblis pun berjabat tangan dengan Tuhan
sebagai mahdi atas ceceran mani haram
tanpa perkawinan

bersama angin malam
yang membawa nafsi dingin udara
dan
dalam kobar kemul berbau pesing
seperti air kencing,
menyelempak

bersama terang yang mengusir pekat
kaupun ikut melesat,
entah ke otakku atau hanya menjadi keringat
aku tak perduli!

karena waktu akan membawamu sebagai memorat
sedangkan aku baru saja senggama
dengan dia yang membujur di bawah
dan kau tegak di atasnya,
engkaupun berharap
dia yang membujur itu engkau
engkaupun terluka
aku bahagia

Friday, December 16, 2011

Amar Yang Kau Tanggung

Pada dekapan bahu malam
            melintaslah engkau
            bintang berasap
Aku ingin melihat ekormu,
            lurus menjuntai..
            ..kemudian melayuk
            dalam tatapanku..




Dan dalam tiap gerakanmu, menghilanglah sesekali
  lalu timbul
pertanda kau memahami kehadiranku
Tapi, adakah amar yang kau pertanggungkan bukan untukku
Karenanya, berputarlah sekali lagi, bila kau masih ragu

Pelabi Untukmu

Telah ku utus kata-kata untuk meninggalkanmu
               sebagai bukti pelagra telah mencintaiku
               dan dosa berasal dari mulut
Adakah pelabi lainnya?
Kau selatannya,
               jika pantai utara adalah jawabannya
               akan ku kawini
               lalu ku setubuhi
               untuk ketenangan dasar hati
                                          milikmu...
Tapi kau perseusku,
               mungkinkah tahu lagi?